Play
dermagaFm | Radio Streaming Kalbar
dermagaFm | Radio Streaming Kalbar
dermagaFm | Radio Streaming Kalbar

Masih adakah orang Dengar Radio di masa IT ini?

Visitasi Pdt Viki ke Dermaga 100,9 FM
Senin, 25 April 2022
Sekadau, dermagafm.com - “Masih adakah orang mendengar radio di masa kini di zaman serba IT seperti saat ini di mana media sosial  tumbuh seperti jamur di musim hujan? Gimana strategi survivenya?  Pertanyaan terakhir yang membawa langkah kaki Sang Pendeta Vicky owner Radio Mustika di kota Singkawang yang datang ke Sekadau hari Senin tanggal 25 April 2022. Berikut petikan wawancara dengan Feronika dan Bung Sance. 

Boleh diceritakan ni Pak Viki, jauh-jauh dari Singkawang datang ke Sekadau, ke radio Dermaga 100,9 FM ni pak?

Saya seorang broadcast radio dan pencinta radio siaran,  berangkat dari keingintahuan saya lebih dalam lagi tentang Radio yang modern ya bukan saja radio konvensional artinya radio siaran yang bisa didengar lewat radio radio umumnya, tetapi bagaimana sekarang mengantisipasi perkembangan zaman melalui online atau streaming khusus untuk kita di Kalbar. Saya lihat postingannya Pak Nico selaku pimpinan dari Dermaga FM yang dishare melalui Grup WA Radio Siaran Swasta Kalbar, saya melihat postingan postingan berita seremonial yang  atau link-link yang beliau bagikan, saya tertarik dan itulah yang membuat saya berada di Sekadau. Karena minggu lalu saya ada janji dengan pak Nico dan hari ini bisa bertemu crew di sini, ada Pak Niko, Bung Sance, Mbak Ika dan yang lainnya. Dari tadi pagi saya tangkap dari pembicaraan yang belum begitu lama,  sebenarnya dari jam 9 tadi kami ngopi sambil menunggu perbaikan ban kendaraan karena ban mobil saya sempat pecah sebelum masuk kota Sekadau, tadi malam dan puji Tuhan ada orang yang sedikit agak mabuk yang tolong saya ganti ban sampai selesai, luar biasa ya, saat mabukpun dia  bisa tolong saya dengan baik, apa lagi kalo dia sehat-sehat,... 

Setelah melihat sendiri, mendengar ceritanya langsung di radio, apa komentar pak Viki? 

Pengalaman yang dapatkan dalam waktu singkat  tadi,  yang ingin saya bagikan  yaitu dua hal yakni bagaimana adanya gabungan radio siaran berfrekuensi,  ya radio frekuensi 100,9 FM dengan mediaonline,  plus radio streaming sekaligus, three in one dikerjakan dengan efektif dan efisien, tidak perlu banyak crew, karena saya juga tau cost radio seperti ini. Ini menarik sekali, karena  selama ini saya tahu radio frekuensi saja kita harus gunakan boster dan exciter yang ber sertifikasi, tower yang tinggi didukung oleh power 300-1000 watt dan anten 4 by menjulang tinggi di udara dan ada kewajiban bayar ijin penggunaan Frekuensi dan Ijin Penyiaran tiap tahun kepada Kominfo. Saya pernah siaran di beberapa radio jaringan Gereja Kristen seperti Hard Rock FM yang bergabung di PRSSNI jaman dulu dan saya lumayan lama dalam siaran-siaran radio dulu saya dari Jakarta, Tangerang sehingga ada juga pengalaman kami membangun siarannya bersama pendeta Erastus Sabdono, dari 6 Stasiun Radio sampai kurang lebih 86 siaran radio yang kami bangun. Itu radio di Jawa, di luar Kalimantan. Nah yang satu ini di Borneo pula, tentu ada hal lainlah. Posisi radio yang terletak di 51 m dpl ini plus tower 40 m, saya bisa bayangkan covered areanya sampai puluhan KM ke berbagai arah di pedalaman yang memang belum semua tercover HP. 

Bedanya radio konvensional dengan radio saat ini menurut pengalaman Pak Pdt Viki? 

Yang paling baru yang saya lihat hari ini adalah gabungan media online dengan radio Frekuensi ini sepertinya sebagai jawaban atas perkembangan zaman,  sudah berubah dan sudah dilakukan di radio  ini. Ini nilai plus dari radio konvensional, bisa dengar radio melalui HP di mana pun asal ada sinyal dan kuota. Dulu Kita hanya dengar radio,  sekarang kita bisa  melihat orang siaran radio melalui facebook live, bukan saja dengar, tetapi isi siarannya bisa dibaca dan didengar sekaligus.... Nah di sini saya dapatkan dari radio ini adalah semacam enlightenment atau pencerahan pikiran inovatif dan kreatif bagaimana penggabungan antara radio berfrekuensi dengan radio streaming dan berita online. Satu lagi, ada grup WA Radio yang tadi saya liat dengan 200 an orang, dimana sebagian besar pendengar, yang lainnya pendukung, lalu acara-acara siaran diposting di grup hingga yang tadinya tidak mendengarpun, jadi tau dan tertarik mendengarkan.. 

Yakin kah kalo radio konvensional tetap survive? 

Kalo seperti ini, saya pastikan bisa survive, bertahan dan ndak kolaps, apa lagi ada nilai plus nya ya, pewartaan iman melalui siaran rohani, Katolik, Kristen Protestan bahkan Islam juga ada. Baik juga belajar dari pengalaman pk Nico yang sudah onair sejak 1994 dan kolaborasi dengan Unesco, Kedubes Denmark, Belanda, Belgia, Unda Ocic media Katolik Dunia dan mempubliskan kegiatan-kegiatan atau program pemerintah.. Saya tambah yakin karena saya jadi ingat radio kan media hiburan yang komunikatif dengan pendengar, sapa orang di mana saja, menganggap yang dengar itu pendengar setia dan itu rasanya lom saya temukan di medsos. Tadi saya dengar ada yang telpon selalu minta putarkan lagu dan titip salam.. dan sy lom liat di media lainnya.... 

Closing Statementnya pak? 

Puji Tuhan dan luar biasa dan tidak sia-sia saya ke radio ini dengan jarak 306 Km dari Singkawang dan hampir 9 jam jarak tempuhnya, saya mendapat berkat Tuhan melalui radio ini. Ini yang pak Nico katakan sebagai sola gratia, hanya karena rahmat Tuhan, tiba-tiba saya berniat berkunjung ke sini dengan anak saya yang juga penyiar radio ini. Saya juga dipertemukan dengan bagian IT nya, Hery Yakob yang juga sharing pengalaman bersama radio ini dan saya bermimpi indah bahwa  bisa dirancangkan format siaran mirip dengan radio Dermaga ini. Intinya kedatangan saya dan anak saya Natanael, ibarat pepatah, sekali mendayung, dua tiga teluk terlangkaui, sekali siaran orang bisa dengar dengan radio konvensional, atau radio HP, dan bisa dibaca kembali topik-topik berita di mediaonlinenya.  The show must go on.... 

Written by Michael Nico Bohot

Info ini bisa didengar di radio kita 100,9 fm atau di dermaggafm.com

1 Komentar

Berita Baru Berita Lainnya