![]() |
| Kebiasaan Hidup Orang Dayak |
Sekadau, dermagafm.com - Aktivis
sekaligus fasilitator Sekolah Adat Arus Kualant, Plorenthina Dessy, terus
mengajak generasi muda Dayak untuk mempertahankan tradisi berladang yang telah
diwariskan oleh para leluhur. Melalui kegiatan belajar di tiga sekolah adat
yang ia dampingi di Kecamatan Balai Berkuak, Kabupaten Ketapang, Plorenthina
menanamkan pemahaman bahwa berladang bukan sekadar aktivitas pertanian, tetapi
juga bagian penting dari identitas budaya masyarakat Dayak.
Cerita ini Radio Dermaga dapatkan dari Florenthina Dessy, aktivis Sekolah Adat Arus Kualant, melalui WA yang ditujukan kepada Radio Dermaga, beberapa waktu yang lalu.
Dalam
berbagai kesempatan pembelajaran, Plorenthina sering membagikan pengalaman dan
nasihat yang ia peroleh dari orang tuanya, terutama dari sang ayah yang telah
meninggal dunia. Baginya, pesan tersebut menjadi bekal berharga yang kini
diteruskan kepada anak-anak dan remaja peserta sekolah adat.
“Bapak
saya dulu selalu mengatakan bahwa huma atau ladang itu cukup untuk hidup kita
sebagai orang Dayak. Dari ladang, keluarga bisa mendapatkan pangan, menjaga
kebersamaan, dan mempertahankan nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh
leluhur,” tutur Plorenthina.
Menurutnya,
tradisi berladang telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan
masyarakat Dayak sejak dahulu. Melalui kegiatan membuka huma, menanam padi,
hingga panen bersama, masyarakat tidak hanya menghasilkan bahan pangan, tetapi
juga memperkuat hubungan sosial dan rasa gotong royong di dalam komunitas.
Di
hadapan para peserta sekolah adat, Plorenthina menekankan bahwa menanam padi sebagai
tanaman utama memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar memenuhi
kebutuhan makan sehari-hari.
“Ketika
kita menanam padi di huma, kita tidak hanya menyiapkan makanan untuk keluarga,
tetapi juga sedang menjaga warisan budaya. Padi adalah bagian dari kehidupan
masyarakat Dayak yang harus terus dilestarikan,” ujarnya.
Ia juga
menjelaskan bahwa sistem berladang tradisional yang dilakukan secara bijaksana
memiliki hubungan erat dengan upaya pelestarian lingkungan. Menurutnya,
masyarakat adat telah lama memiliki pengetahuan tentang cara memanfaatkan alam
tanpa merusaknya.
“Melestarikan
huma berarti juga melestarikan hutan di sekitar kita. Orang tua kita
mengajarkan bagaimana hidup berdampingan dengan alam, mengambil secukupnya, dan
menjaga keseimbangan lingkungan agar tetap lestari,” katanya.
Melalui
tiga sekolah adat yang ia dampingi, Plorenthina berharap semakin banyak
generasi muda yang memahami pentingnya mempertahankan budaya berladang di
tengah perubahan zaman. Ia menilai nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung
dalam tradisi tersebut masih sangat relevan untuk diterapkan saat ini.
Dengan
semangat pelestarian budaya dan lingkungan yang terus ditanamkan, Plorenthina
Dessy berharap anak-anak Dayak dapat tumbuh menjadi generasi yang bangga terhadap
identitasnya, mencintai tanah leluhurnya, serta mampu menjaga tradisi berladang
sebagai warisan berharga bagi masa depan. (IKA)
