![]() |
| Bagian Penutup Upacara Sunatan, Mandi ke Sungai Takarek |
Tradisi tahunan ini menjadi salah satu warisan budaya yang terus dipertahankan oleh masyarakat setempat sebagai simbol kedewasaan dan penghormatan terhadap adat leluhur acara ini diikuti oleh 23 peserta sunat dari 7 Kampung dalam kedesaan Sebabas.
Radio Dermaga diundang untuk meliput acara tersebut dan menyampaikannya kepada publik melalui media sosial dermaga.com.
Acara yang dihadiri para tokoh adat, orang tua peserta, serta masyarakat sekitar ini berlangsung dengan penuh rasa kekeluargaan. Prosesi dimulai sejak pagi hari kedua dan sampai hari ketiga dengan sejumlah tahapan adat, doa hingga pelaksanaan sunat yang dipimpin oleh para ketua adat Suku Dayak Ma'amp.
Ketua Adat Dusun Batu Koran, Diman, menegaskan bahwa sunatan tradisional bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi bagian penting dari identitas budaya Dayak Mahap yang harus dijaga kelestariannya.
“Prosesi ritual adat sunat bertujuan untuk melestarikan budaya leluhur dan sebagai tanda bahwa anak tersebut sudah memasuki fase dewasa,” ujar Diman.
Ia menambahkan, generasi muda Dayak Mahap perlu terus mendapatkan pendidikan budaya agar nilai-nilai adat tidak hilang seiring perkembangan zaman. Melalui pelaksanaan rutin setiap tahun, masyarakat berharap tradisi ini menjadi momentum memperkuat jati diri suku Dayak Mahap.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap generasi muda selalu mengingat budaya yang khas ini sebagai salah satu ciri khas suku Dayak Mahap,” tambahnya.
Sementara itu, salah satu peserta sunat, Dandi, mengaku bangga dapat mengikuti prosesi adat yang telah menjadi tradisi turun-temurun.
“Saya sangat bersyukur atas terlaksananya sunatan tradisional ini. Saya berharap ke depannya kegiatan seperti ini bisa terus dilaksanakan, dan kita sebagai generasi muda harus melestarikan budaya ini,” ungkapnya
Acara sunatan tradisional tahun ini berjalan lancar dengan dukungan penuh dari masyarakat, tokoh adat, serta pemerintah desa Sebabas.
Secara teknis masing-masing peserta yang berasal dari masing-masing keluarga menyiapkan satu ekor babi, tiga tempat yang tua, beras pulut, beras, ayam dan aneka aksesoris terbentuk pakaian tradisional, iya kan tempayan, serta berbagai hiasan lainnya yang sudah menjadi kebiasaan dan dituangkan dalam aturan tidak tertulis dari nenek moyang suku Dayak Ma'amp.
Tradisi ini diharapkan dapat terus menjadi kekayaan budaya yang memperkuat kebersamaan, identitas, dan kebanggaan masyarakat Dayak Mahap di Kabupaten Sekadau.
Editor: Penanggung Jawab radio dermaga Sekadau

