![]() |
| Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab Sekadau, Frans Dawal SE MM berikan sambutan |
Sekadau, dermagafm.com - Iban Summit III tahun 2026 dengan judul Iban Dream, dibuka secara resmi oleh Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sekadau, diikuti oleh lebih dari 300 peserta dari Kalbar, Kalteng dan Serawak Malaysia, berlangsung di Rektorat Institut Teknolgi Keling Kumang, 15 Mei 2026.
Acara ini dimulai dengan sambutan CEO Keling Kumang, Hilarus Gimawan SE, MM yang intinya menyampaikan selamat datang kepada para peserta Iban Summit III, selanjutnya acara dibuka oleh Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sekadau, Frans Dawal.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sekadau, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan Iban Summit III di Institut Teknologi Keling Kumang sebagai ruang penting untuk memperkuat identitas budaya, pendidikan, dan persatuan masyarakat adat Dayak Iban. Menurutnya, kegiatan ini menjadi wadah strategis dalam menjaga nilai-nilai luhur budaya sekaligus memperkenalkannya kepada generasi muda di tengah perkembangan zaman dan teknologi.
“Kita ingin generasi muda Dayak Iban tetap bangga terhadap identitas budayanya, karena budaya bukan hanya warisan leluhur, tetapi juga fondasi masa depan masyarakat yang berkarakter dan bermartabat,” ujar Frans Dawal.
Setelah dibuka secara resmi, Iban Summit III dilanjutkan dengan sambutan berupa Keynote Speach oleh Dr. Drs. Stefanus Masiun yang membahas topic : Ibanisme:
Dalam keynote speech tersebut, Stefanus memaparkan sejumlah keunggulan masyarakat Iban yang masih bertahan hingga kini. Ia menyebut keberanian dan ketahanan diri sebagai karakter utama orang Iban. Selain itu, kehidupan komunitas dan solidaritas sosial yang tinggi menjadi kekuatan penting dalam menjaga persatuan masyarakat adat.
“Orang Iban memiliki kehidupan komunitas yang kuat, saling membantu dan memiliki solidaritas yang tinggi,” katanya.
Ia juga menyinggung pengetahuan masyarakat adat terhadap alam dan hutan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Tidak hanya itu, seni dan budaya Iban juga disebut memiliki nilai tinggi, mulai dari produk kerajinan hingga kesenian tradisional yang tetap hidup di tengah masyarakat.
Stefanus turut menyoroti sistem kepemimpinan adat yang dimiliki masyarakat Iban. Menurutnya, masyarakat adat memiliki pemerintahan, hukum, serta wilayah adat yang digunakan untuk mengatur kehidupan sosial masyarakat secara mandiri dan berkeadilan.
“Kita memiliki adat, hukum dan wilayah adat yang sejak dahulu menjadi dasar mengatur kehidupan masyarakat,” ungkapnya.
Dalam bidang pendidikan dan kehidupan sosial, ia menilai masyarakat Iban memiliki kecerdasan sosial yang kuat melalui budaya gotong royong dan semangat saling membantu. Nilai spiritualitas dan penghormatan terhadap sesama juga menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat adat.
Namun demikian, Stefanus Masiun mengingatkan bahwa masyarakat adat kini menghadapi tantangan besar di masa depan. Ia menyebut deforestasi dan hilangnya tanah adat sebagai ancaman serius bagi keberlangsungan masyarakat adat.
“Wilayah adat semakin sedikit, sementara konflik hak tanah adat juga terus terjadi,” tegasnya.
Selain itu, ia menyoroti mulai hilangnya bahasa daerah dan pengetahuan tradisional akibat perubahan zaman. Generasi muda, menurutnya, semakin jarang menggunakan bahasa Iban dan perlahan meninggalkan kebiasaan lokal seperti pengobatan tradisional.
“Orang sekarang lebih senang menggunakan Bahasa Indonesia dibanding bahasa daerah,” ujarnya.
Fenomena urbanisasi dan migrasi penduduk dari desa ke kota juga disebut menjadi faktor yang menyebabkan generasi muda perlahan melupakan adat dan identitas budaya mereka. Perubahan iklim yang berdampak pada meningkatnya bencana alam di daerah lokal turut menjadi perhatian dalam pidato tersebut.
Tidak hanya itu, Stefanus menilai keterlibatan masyarakat adat dalam pengambilan kebijakan pemerintah masih lemah, terutama di tingkat nasional. Di sisi lain, masyarakat pedalaman juga masih menghadapi keterbatasan akses pendidikan akibat jarak tempuh sekolah yang jauh.
Dalam keynote speech itu, Stefanus memperkenalkan konsep “Iban Dream” yang menurutnya memiliki makna bermartabat, mandiri, sejahtera, dan menjadi tuan di tanah sendiri.
Ia menjelaskan bahwa pondasi Iban Dream terdiri dari beberapa unsur penting, yakni human capital, spirit kekeluargaan Iban, Iban otentik, Ibannomic, serta persemakmuran Iban.
Human capital, katanya, berkaitan dengan pembangunan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan formal, non-formal maupun informal.
“Orang bisa sukses jika kuat di pendidikan non-formal dan informal, termasuk belajar langsung dari masyarakat,” jelasnya.
Sementara spirit kekeluargaan Iban diwujudkan melalui ikatan solidaritas yang kuat, gotong royong, kebersamaan dan identitas kolektif masyarakat Iban sebagai satu keluarga besar.
Ia juga menegaskan pentingnya menjaga identitas sebagai orang Iban yang otentik.
“Bangga sebagai orang Iban, bangga menggunakan bahasa Iban dan mempraktikkan nilai-nilai Iban,” katanya.
Konsep Ibannomic yang dipaparkan Stefanus merupakan pendekatan pembangunan ekonomi berbasis komunitas lokal dengan tetap memperhatikan adat, kearifan lokal dan kelestarian lingkungan secara berkelanjutan.
Di akhir pidatonya, Stefanus mengusulkan pembentukan “Iban Society Network” sebagai wadah memperkuat jaringan sesama masyarakat Iban guna merumuskan langkah bersama dalam mewujudkan mimpi besar masyarakat adat.
“Kita perlu membangun kerja sama dan solidaritas ekonomi yang kuat demi mewujudkan mimpi bersama masyarakat Iban,” pungkasnya.
Acara Iban Summit III ini kemudian dilanjutkan dengan sesi 1 dengan judul Budaya Iban: Dari Seni Warisan Kekuatan Ekonomi Global dengan 3 narasumber, sesi 2 dengan topik Ibanomic: dari ekonomi subsisten ke menguasai rantai nilai, sesi 3 topik nya adalah kelembagaan dan kepemimpinan Iban, sesi ke 4 Iban Dream Panel, sesi ke 5 tentang Revolusi Pendidikan Iban dan sesi terakhir Resolution Iban Summit III.(NB)
Editor penJab radio dermaga Sekadau
