![]() |
| KKF:Lomba Bejaneh Sub Suku Dayak |
Sekadau, dermagafm.com – Suasana penuh nuansa budaya tradisional mewarnai pelaksanaan Lomba Bejaneh dalam rangkaian festival budaya di Kabupaten Sekadau. Lomba ini menjadi salah satu ajang pelestarian sastra lisan tradisional masyarakat Dayak, khususnya Sub Suku Dayak Iban, Suku Desa, dan Suku Seberuang yang diwariskan secara turun-temurun.
Bejaneh merupakan bentuk lagu tradisional yang berisi syair-syair lisan tentang kehidupan masyarakat zaman dahulu. Dalam setiap lantunan lagu, terkandung pesan persaudaraan, kebersamaan, nasihat hidup, hingga cerita perjalanan leluhur Dayak yang dahulu hidup dengan semangat gotong royong dan saling menghormati.
Peserta lomba seluruhnya diikuti kaum laki-laki dengan total lima peserta, terdiri dari dua peserta asal Kabupaten Sintang dan tiga peserta dari Kabupaten Sekadau. Mereka tampil menggunakan pakaian adat Dayak lengkap sambil membawakan syair-syair bejaneh dengan gaya dan karakter masing-masing.
Penampilan para peserta mendapat perhatian besar dari masyarakat yang hadir. Selain menampilkan kualitas vokal, para peserta juga dituntut mampu menyampaikan makna dan pesan budaya yang terkandung dalam syair yang dibawakan.
Ketua Dewan Juri, Daniel Banai menjelaskan bahwa penilaian dalam lomba tidak hanya melihat kemampuan bernyanyi semata, tetapi juga unsur adat dan makna sastra lisan yang disampaikan peserta.
“Bejaneh bukan hanya soal suara yang bagus, tetapi bagaimana peserta mampu menyampaikan pesan-pesan persaudaraan, kehidupan masyarakat Dayak tempo dulu, serta nilai budaya yang terkandung di dalam syairnya. Karena itu tim juri menilai dari perkenalan diri peserta, pakaian adat yang digunakan, kualitas suara, hingga pesan yang ingin disampaikan kepada masyarakat,” ujar Daniel Banai saat membacakan kriteria penilaian dewan juri.
Ia menambahkan, keberadaan lomba bejaneh sangat penting untuk menjaga agar sastra lisan Dayak tidak hilang ditelan perkembangan zaman. Menurutnya, generasi muda perlu diperkenalkan kembali dengan tradisi-tradisi lisan yang menjadi identitas budaya masyarakat Dayak.
Dalam perlombaan tersebut, tiga orang dewan juri memberikan penilaian secara ketat terhadap seluruh peserta. Para juri memperhatikan kesesuaian pakaian adat Dayak yang dikenakan, teknik vokal dan irama lagu bejaneh, serta kedalaman pesan budaya yang dibawakan dalam syair.
Setiap peserta tampil dengan ciri khas tersendiri. Ada yang membawakan kisah persahabatan antarkampung, pesan menjaga adat istiadat, hingga cerita kehidupan masyarakat Dayak di masa lalu yang hidup berdampingan dengan alam.
Antusiasme masyarakat terlihat sepanjang perlombaan berlangsung. Banyak penonton ikut larut dalam lantunan syair tradisional yang dinilai mampu membangkitkan kenangan dan nilai-nilai kebersamaan masyarakat Dayak.
Adapun juara satu Lomba Bejaneh ini adalah Bapak Paustnus Sian berasal dari Kecamatan Tempunak Kabupaten Sekadau. Kepada Radio Dermaga, Paustnus Sian mengatakan bahw pesan dalam Janeh nya tadi adalah meminta maaf kepada penonton dewan juri dan peserta lainnya bahwa janehnya hanya untuk hiburan semata-mata.
Pelaksanaan lomba ini diharapkan menjadi ruang pelestarian budaya sekaligus media edukasi bagi generasi muda agar tetap mencintai sastra lisan daerah. Selain itu, kegiatan budaya seperti bejaneh juga dinilai mampu mempererat hubungan antar masyarakat lintas sub suku Dayak di Kalimantan Barat.
Melalui lomba tersebut, nilai-nilai luhur tentang persaudaraan, penghormatan kepada leluhur, dan semangat menjaga budaya kembali digaungkan di tengah perkembangan modernisasi yang semakin pesat. (NB)
Editor: Pen Jab Radio Dermaga Sekadau

