![]() |
| KKF: Lomba Numbuk Padi |
Tags:
#News
![]() |
| KKF: Lomba Numbuk Padi |
Lomba tersebut digelar di area festival dengan disaksikan ratusan pengunjung yang antusias memberikan dukungan kepada para peserta. Para ibu-ibu tampil mengenakan pakaian adat dan busana khas daerah masing-masing, menambah semarak perlombaan yang tidak hanya mengedepankan keterampilan, tetapi juga pelestarian budaya lokal.
Dalam perlombaan ini, panitia menetapkan sejumlah ketentuan penilaian, di antaranya teknik menumbuk padi, kecepatan dan ketekunan, hasil tumbukan, kerja sama tim, serta penampilan dan semangat peserta selama perlombaan berlangsung. Setiap kelompok harus menunjukkan kekompakan dalam mengatur irama tumbukan agar menghasilkan beras yang baik dan halus.
Sorak penonton semakin ramai ketika para peserta menunjukkan kemampuan mereka menumbuk padi dengan ritme yang kompak dan teratur. Beberapa peserta terlihat sangat terampil memainkan alu dengan gerakan yang sudah terbiasa dilakukan sejak lama dalam kehidupan sehari-hari di kampung.
Setelah melalui proses penilaian dewan juri, kelompok ibu-ibu dari Kampung Tapang Sambas berhasil meraih juara pertama. Kekompakan tim, teknik yang baik, dan hasil tumbukan yang dinilai paling rapi menjadi faktor utama kemenangan mereka. Sementara kelompok lainnya juga mendapatkan apresiasi atas semangat dan partisipasi mereka dalam melestarikan tradisi nenek moyang.
Salah satu juri lomba, Linus, memberikan pujian kepada seluruh peserta yang tampil dalam perlombaan tersebut. Menurutnya, para peserta menunjukkan kemampuan yang sangat baik karena sebagian besar sudah terbiasa melakukan aktivitas menumbuk padi sejak dahulu.
“Kami sangat mengapresiasi semua peserta. Rata-rata para penumbuk ini sudah mahir karena memang sudah biasa numbuk padi dalam kehidupan sehari-hari. Usia mereka juga rata-rata di atas 30 tahun sehingga pengalaman mereka terlihat sekali saat lomba berlangsung,” ujar Linus.
Ia juga menilai kegiatan seperti ini sangat penting untuk menjaga warisan budaya agar tetap dikenal generasi muda. Menurutnya, lomba numbuk padi bukan sekadar perlombaan hiburan, tetapi juga menjadi sarana edukasi budaya tradisional kepada masyarakat.
Sementara itu, salah satu peserta bernama Mah mengaku bangga dapat ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Ia mengatakan keikutsertaannya menjadi pengalaman berharga karena dipercaya mewakili kelompoknya dalam perlombaan budaya.
“Saya merasa bangga karena dipercaya ikut menumbuk padi dalam festival ini. Kegiatan seperti ini membuat kami senang karena budaya lama masih dihargai dan ditampilkan kepada masyarakat,” ungkap Mah.
Lomba numbuk padi menjadi salah satu agenda yang paling menarik perhatian dalam Keling Kumang Festival tahun ini. Selain menghadirkan hiburan, kegiatan tersebut juga memperlihatkan kuatnya nilai budaya, kerja sama, dan semangat perempuan Dayak dalam menjaga tradisi leluhur agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.(NB)
Editor penJab radio dermaga Sekadau