Play
dermagaFm | Radio Streaming Kalbar
dermagaFm | Radio Streaming Kalbar

Aktivis Dayak dan Guru Sekolah Adat Arus Kualant Berbagi Semangat Pendidikan dan Pelestarian Budaya di SDN 05 Simpang Dua

 

Kunjungan Team Sekolah Adat Arus Kualant ke SDN Tetangga

Sekadau, dermagafm.com – Aktivis pemuda Dayak sekaligus guru di Sekolah Adat Arus Kualant, Plorentina Dessy, bersama adiknya yang juga pemain musik sapek, Delly membagikan pengalaman inspiratifnya saat memenuhi undangan dari SDN 05 Kecamatan Simpang Dua, Kabupaten Ketapang. Dalam catatannya kepada Radio Dermaga Sekadau, Dessy mengaku bangga dan terharu melihat semangat belajar anak-anak serta perhatian sekolah terhadap pendidikan dan budaya Dayak.

Hal ini disampaikan oleh Plorenthyna Dessy kepada Radio Dermaga yang berkunjung ke Sekolah Adat Arus Kualant tahun lalu, melalui WA kepada Radio Dermaga, hari kamis 22 April 2026.

Kegiatan kunjungan tersebut menjadi ruang berbagi pengalaman antara para pengajar sekolah adat dengan para siswa sekolah dasar. Menurut Dessy, suasana penyambutan dari siswa-siswi SDN 05 Simpang Dua begitu hangat dan penuh antusiasme. Anak-anak terlihat bersemangat mendengarkan cerita tentang budaya Dayak, kehidupan masyarakat adat, hingga pentingnya menjaga alam dan hutan.

Dessy juga menyampaikan kekagumannya terhadap salah satu tokoh Dayak asal daerah tersebut, yakni Yulius Minor yang berhasil melanjutkan pendidikan hingga jenjang S2 di luar negeri berkat prestasi akademiknya. Baginya, sosok seperti Yulius Minor menjadi motivasi besar bagi generasi muda Dayak agar terus belajar dan percaya diri mengejar pendidikan tinggi.

“Melihat ada tokoh Dayak seperti Pak Yulius Minor yang bisa kuliah sampai luar negeri karena prestasi, itu membuat kami bangga. Anak-anak Dayak harus percaya bahwa mereka juga mampu bersaing dan berhasil,” ujar Dessy.

Dalam kesempatan itu, Dessy juga mengenang masa-masa sekolahnya dulu yang penuh keterbatasan. Ia menceritakan bagaimana dirinya harus berjalan kaki menuju sekolah dengan fasilitas yang sangat sederhana dibandingkan kondisi saat ini.

“Saya dulu sekolah dengan banyak keterbatasan. Kami berjalan kaki jauh, fasilitas belum lengkap, tapi semangat belajar tidak boleh hilang. Karena pendidikan bisa mengubah kehidupan masyarakat adat,” tuturnya.

Ia menegaskan bahwa pendidikan harus berjalan beriringan dengan upaya mempertahankan budaya dan menjaga hutan sebagai identitas masyarakat Dayak.

“Kita boleh maju dalam pendidikan dan teknologi, tetapi budaya Dayak jangan sampai hilang. Anak-anak harus mengenal bahasa, adat, dan cerita leluhur mereka,” katanya lagi.

Menurut Dessy, hutan memiliki hubungan yang sangat erat dengan kehidupan masyarakat adat Dayak sehingga generasi muda perlu diajarkan untuk menjaga alam sejak dini.

“Hutan bukan hanya tempat mencari kehidupan, tetapi juga rumah budaya dan warisan leluhur masyarakat Dayak. Kalau hutannya rusak, maka identitas kita ikut hilang,” tegasnya.

Ia berharap kegiatan seperti ini terus dilakukan agar anak-anak di pedalaman semakin termotivasi untuk belajar sekaligus mencintai budaya daerahnya sendiri.

“Belajar itu penting supaya generasi Dayak bisa menjadi pemimpin di tanah sendiri, namun tetap menjaga adat, budaya, dan alam yang diwariskan nenek moyang,” pungkas Dessy.

 

Tinggalkan Komentar

Berita Baru Berita Lainnya