Play
dermagaFm | Radio Streaming Kalbar
dermagaFm | Radio Streaming Kalbar

Plorenthina Dessy Ajak Generasi Muda Dayak Lestarikan Sayuran Tradisional

Plorenthyna Dessy dengan sayuran lokal
Sekadau, dermagafm.com - Aktivis muda Dayak sekaligus pengajar Sekolah Adat Arus Kualant, Plorenthina Dessy, mengajak generasi muda Dayak untuk kembali mengenal dan melestarikan berbagai jenis sayuran tradisional yang selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat adat.

Dalam kegiatan pembelajaran yang dilakukannya bersama anak-anak dan remaja di wilayah Kecamatan Balai Berkuak, Kabupaten Ketapang, Plorenthina menekankan bahwa kekayaan pangan lokal Dayak tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga menjadi sumber kehidupan yang telah diwariskan turun-temurun oleh para leluhur.

Informasi ini disampaikan oleh Team Sekolah Arus Kualant kepada Radio Dermaga melalui WA, hari Rabu, 22 April 2026.

Menurutnya, banyak generasi muda saat ini yang mulai kurang mengenal jenis-jenis sayuran tradisional yang dahulu sangat mudah ditemukan di hutan, ladang, maupun pekarangan rumah. Padahal, sayuran seperti pakis, mentimun lokal, rebung, daun ubi, dan berbagai tanaman pangan lainnya telah membantu masyarakat Dayak bertahan hidup selama berpuluh-puluh tahun.

Saya ingin anak-anak muda Dayak sadar bahwa sayur-sayuran tradisional yang diwariskan oleh nenek moyang kita sangat penting untuk dilestarikan. Saya sendiri bisa tumbuh dan hidup sehat sampai hari ini karena mengonsumsi makanan dan sayuran tradisional yang tersedia di sekitar lingkungan kami,” ujar Plorenthina.

Ia menjelaskan bahwa keberadaan sayuran tradisional tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan pangan sehari-hari, tetapi juga menjadi bagian dari pengetahuan adat yang perlu terus diwariskan kepada generasi berikutnya. Dengan mengenal berbagai jenis tanaman lokal, anak-anak muda dapat memahami hubungan erat antara manusia, alam, dan budaya Dayak.

Pakis, mentimun, dan banyak tanaman lainnya bukan sekadar makanan. Di dalamnya ada pengetahuan, ada sejarah, dan ada cara hidup masyarakat Dayak yang menghargai alam. Kalau generasi muda tidak mengenalnya lagi, maka perlahan-lahan warisan itu bisa hilang,” tambahnya.

Melalui kegiatan Sekolah Adat Arus Kualant, Plorenthina terus mengajak peserta didik untuk belajar langsung mengenali tanaman pangan lokal, cara menanamnya, hingga memanfaatkannya sebagai sumber makanan keluarga. Ia berharap semakin banyak generasi muda yang bangga terhadap kekayaan pangan tradisional Dayak dan turut menjaga keberlangsungannya.

Bagi Plorenthina, melestarikan sayuran tradisional bukan hanya menjaga sumber pangan, tetapi juga menjaga identitas budaya dan kearifan hidup masyarakat Dayak yang telah terbukti mampu menopang kehidupan dari generasi ke generasi.

Tinggalkan Komentar

Berita Baru Berita Lainnya