Play
dermagaFm | Radio Streaming Kalbar
dermagaFm | Radio Streaming Kalbar

Plorentina Dessy Ajarkan Memasak dengan Bambu kepada Peserta Sekolah Adat Arus Kualant

Pelajaran Memasak dengan Bambu
Sekadau, dermagafm.comPendiri sekaligus pengajar Sekolah Adat Arus Kualant, Plorentina Dessy, kembali mengajak peserta sekolah adat untuk belajar langsung dari alam. Kali ini, Dessy mengajarkan cara memasak menggunakan bambu, sebuah tradisi yang telah lama dipraktikkan oleh masyarakat Dayak sebagai bagian dari pengetahuan leluhur yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Kegiatan tersebut dilaksanakan dengan membawa para peserta masuk ke kawasan hutan di sekitar wilayah adat. Di lokasi itu, para peserta diajak mengenal jenis-jenis bambu yang dapat digunakan untuk memasak, cara memilih bambu yang tepat, hingga teknik memasak makanan secara tradisional menggunakan bahan-bahan yang tersedia di alam.

Menurut Dessy, pembelajaran di Sekolah Adat Arus Kualant tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga praktik langsung agar peserta dapat memahami hubungan erat antara masyarakat Dayak dengan hutan. Melalui kegiatan memasak dengan bambu, anak-anak diperkenalkan pada cara hidup yang ramah lingkungan dan tidak menghasilkan banyak limbah.

Ia menjelaskan bahwa tradisi memasak menggunakan bambu merupakan salah satu contoh bagaimana masyarakat Dayak memanfaatkan sumber daya alam secara bijaksana tanpa merusak lingkungan. Pengetahuan tersebut menjadi bagian penting dari identitas budaya yang perlu terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda.

Orang Dayak sejak dahulu hidup berdampingan dengan hutan. Memasak dengan bambu adalah salah satu contoh bagaimana leluhur kita memanfaatkan alam secukupnya tanpa merusaknya. Pengetahuan seperti ini harus terus diwariskan kepada anak-anak,” ujar Dessy.

Selama kegiatan berlangsung, para peserta terlihat antusias mengikuti setiap tahapan yang diajarkan. Mereka belajar mempersiapkan bambu, memasukkan bahan makanan, hingga proses memasak di atas api seperti yang dilakukan oleh masyarakat Dayak pada masa lalu.

Bagi Dessy, membawa peserta langsung ke hutan merupakan cara terbaik untuk mengenalkan nilai-nilai pelestarian lingkungan. Ia menilai anak-anak akan lebih mudah memahami pentingnya menjaga alam ketika mereka merasakan sendiri manfaat yang diberikan oleh hutan.

Saya ingin peserta sekolah adat memahami bahwa hutan bukan hanya tempat mengambil hasil alam, tetapi juga ruang belajar, sumber kehidupan, dan bagian dari budaya kita. Karena itu, menjaga hutan berarti menjaga masa depan masyarakat Dayak sendiri,” tegasnya.

Melalui kegiatan tersebut, Sekolah Adat Arus Kualant terus berupaya menanamkan kecintaan terhadap budaya dan lingkungan, sekaligus memastikan pengetahuan tradisional masyarakat Dayak tetap hidup dan dikenal oleh generasi penerus.

 

Tinggalkan Komentar

Berita Baru Berita Lainnya