![]() |
| Team Rintis Hutan Mungguk Botong |
Sekadau, dermagafm.com – Institut Menua Punjung (IMP) melaksanakan kegiatan Rintis Hutan Mungguk Botong di Kampung Entebas, Desa Semabi, pada 4–6 Juni 2026. Kegiatan ini bertujuan untuk mendokumentasikan sekaligus memperkuat upaya perlindungan kawasan hutan yang masih terjaga dengan baik dan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Suku Benawas.
Hutan Mungguk Botong yang memiliki luas sekitar 300 hektare tersebut berada di ini 9kawasan perbukitan dan masih menyimpan berbagai jenis pohon hutan bernilai tinggi. Di dalamnya tumbuh beragam spesies seperti meranti, belian, tengkawang, serta berbagai jenis kayu rimba lainnya yang menjadi penopang ekosistem sekaligus sumber pengetahuan tradisional masyarakat setempat.
Selama tiga hari kegiatan, tim melakukan penelusuran jalur hutan, pencatatan titik koordinat menggunakan perangkat GPS, serta pendokumentasian kondisi kawasan. Doni bertugas sebagai operator GPS untuk membantu pemetaan batas-batas kawasan yang dirintis. Kegiatan tersebut juga melibatkan Ketua RT Kampung Entebas, Nion, Kepala Dusun Entebas Paulus Eko, serta tokoh masyarakat Ade dan Sumanto yang selama ini aktif menjaga keberadaan hutan tersebut.
Menurut Nico Bohot selaku koordinator tim pelaksana, keberadaan Hutan Mungguk Botong memiliki nilai penting tidak hanya dari sisi lingkungan, tetapi juga sebagai warisan budaya masyarakat Benawas Kampung Entebas yang telah menjaga kawasan itu secara turun-temurun.
“Kami ingin menyampaikan kepada masyarakat luas bahwa Hutan Mungguk Botong masih sangat layak dipertahankan. Kawasan ini dapat diusulkan menjadi hutan adat atau hutan desa agar memiliki perlindungan yang lebih kuat untuk generasi mendatang,” ujar Doni, operator GPS.
Ketua RT Kampung Entebas, Nion, mengatakan masyarakat setempat masih memiliki hubungan yang kuat dengan kawasan hutan tersebut.
“Sejak dahulu hutan ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Benawas. Kami berharap keberadaannya tetap terjaga dan tidak beralih fungsi sehingga anak cucu kami masih dapat menikmati manfaatnya,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dusun Entebas, Paulus Eko, menilai kegiatan perintisan menjadi langkah awal yang penting dalam memperkenalkan potensi hutan kepada publik.
“Melalui kegiatan ini, kami dapat menunjukkan bahwa masih ada hutan yang terpelihara dengan baik. Ini menjadi modal penting untuk mendorong perlindungan kawasan secara resmi,” ungkapnya.
Tokoh masyarakat, Sumanto, menambahkan bahwa pelestarian hutan merupakan tanggung jawab bersama.
“Kalau hutan ini tetap terjaga, maka sumber air, satwa, dan berbagai jenis pohon yang ada di dalamnya juga akan tetap lestari. Hutan ini adalah warisan yang harus kami jaga untuk masa depan,” tegasnya.
Kegiatan Rintis Hutan Mungguk Botong diharapkan menjadi langkah awal menuju pengakuan dan perlindungan kawasan sebagai hutan adat atau hutan desa, sehingga kekayaan alam yang dimiliki masyarakat Benawas dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Adapun tempat-tempat yang di lewati antara lain Batu Belah, Pucuk Tanggui, Kumang Lapang, Air Tuak Tawar, Tapang Keramat, Batu Bara, Tapang Pangau, Buluh Kampung Babi, Mungguk Botong sebagai puncak tertinggi, Mungguk Gontintg, Batu Tajau.
Sementara kayu-kayu yang ada antara lain Tengkawang, Keladan, Mengkedang, merantik, durian, lukai, pohon aping, aneka rotan, marau paoh, kemantan, Tengkawang kara, dan aneka jenis akar hutan.
Sebagai informasi bahwa kegiatan ini didukung oleh Walhi Nasional dan Walhi Kalbar serta DKP3 Kab Sekadau.(NB)
